Makna Sebuah Cincin

Artikel yang saya tulis ini idenya muncul saat malam tadi, ada seseorang yang mengkritik saya karena memakai cincin di jari manis tangan kanan. Katanya, saya seperti orang yang sudah menikah. Akhirnya muncul lah ide untuk menulis artikel tentang makna sebuah cincin. Silahkan disimak…. :)

Cincin adalah salah satu aksesoris yang lumrah dipakai oleh semua kalangan, baik pria maupun wanita, tua maupun muda. Tidak ada peraturan yang membatasi pemakaian cincin sebagai perhiasan bagi laki-laki seperti perhiasan lain(ex: anting, gelang ataupun kalung), hanya bahan asalnya saja yang dibatasi. Tidak boleh berasal dari emas, mutiara, berlian, sedangkan yang berasal dari emas putih alias perak boleh, seperti yang saya pakai… :)

Cincin merupakan aksesoris yang juga dipakai oleh Nabi kita, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Menurut kisah, Nabi memakainya di jari manis tangan kanan beliau. Dan ada sebuah hadith yang artinya kurang lebih: “Pakailah, meskipun hanya cincin dari besi”. Dalam suatu kisah, cincin Baginda Nabi tersebut terlepas dan hilang di kolam yang ada di depan Masjid Quba’, dan menurut kisah lagi, cincin tersebut ditemukan dan disimpan oleh masyarakat di alam Jin. Intinya, memakai cincin (bagi laki-laki) adalah sunnah.

Selain aksesoris dan sunnah Rosul, ternyata ada makna lain dari cincin. Selain sebagai aksesoris, sebuah cincin terkadang menggambarkan kepribadian pemakainya. Seorang laki-laki atau perempuan yang memakai cincin di jari manis tangan kanan (katanya) menandakan bahwa dia sudah berumah tangga. Sedangkan jika di jari yang lain, maka hanya dianggap sebagai hiasan belaka. Lain lagi jika yang dipakai adalah cincin dari jenis ‘Akik’ (umumnya hanya untuk kalangan laki-laki). Pemakainya biasanya identik dengan kesan magis, penuh aura, dsb. Namun tak jarang akik tersebut hanyalah perhiasan belaka.

Itu tadi makna sebuah cincin yang saya ketahui. Sedangkan bagi saya pribadi, memakai cincin adalah merupakan kebiasaan dan kesukaan sejak saya kelas 5 SD. Selain sebagai perhiasan, ada sebab lain dibalik saya memakai cincin. Pertama, waktu kecil saya diajari sunnah wudlu, salah satunya adalah menyela-nyela jari-jemari dan memutar-mutar cincin. Naah, kalau tidak memakai cincin, apa yang mau diputar-putar? hehehe…. Kemudian, saat di MA, kalau tidak salah waktu itu pas ngaji kitab Fatkhul Mu’in, disana ada hadith tentang cincin yang artinya kurang lebih; “Pakailah, walaupun cincin dari besi”. Itulah yang menambah motivasi saya untuk memakai cincin. So, cincin yang saya pakai di jari manis tangan kanan saya itu bukan menandakan saya sudah berkeluarga…hehehe…. :)

Wallahu a’lam bishshowab…..

Rebo Wekasan di Jepara

Hari ini hari rabu terakhir di bulan Shofar al-Khoir. Orang jawa menyebut istilah hari rabu ini dengan sebutan “Rebo Wekasan”. Pada hari ini, orang Jawa meyakini bahwa berbagai macam bala’ dan penyakit diturunkan, oleh karena itu orang jawa melaksanakan ritual tolak balak di hari rebo wekasan ini.

Nahdlatul ‘Ulama’ sebagai salah satu ORMAS Islam terbesar di Indonesia, melestarikan budaya Rebo Wekasan ini dengan melaksanakan upacara Selamatan yang berisi Sholat Sunnah Muthlaq atau Sholat Daf ul Bala’, lalu dilanjutkan dzikir dan do’a untuk tolak balak, Mau’idhoh Hasanah, dan terkadang juga mengadakan santunan pada anak yatim.

Untuk waktu pelaksanaannya sendiri, tidak ditentukan, karena memang tidak ada ketentuannya. Sebagian ada yang melaksanakan malam rabu nya, dan ada pula yang pas hari rabu (biasanya habis dzuhur/ashar). Di desa mbah saya, Karangaji, Kedung, Jepara, dilaksanakan tadi malam habis sholat ‘Isya’. Jadi setelah jama’ah melaksanakan sholat ba’dliyah ‘Isya’, sholat sunnah muthlaq pun dilaksanakan, kmudian menyusul acara lain (Mau’idzoh hasanah, dzikir n do’a bersama).

Banyak sekali pihak yang kontroversi akan budaya rebo wekasan ini. Mereka berpendapat bahwa ini adalah Bid’ah dan tidak ada dalam ajaran Islam. Memang, Nabi tidak pernah mengajarkan rebo wekasan, tapi juga tidak pernah melarang. Dan kalo menurut ane nih…. Selama Niatnya baik, tidak men-sekutukan Allah ‘Azza wa Jall, serta demi kemaslahatan ummat, kenapa tidak.

So, janganlah suka memvonis seseorang/kelompok atas apa yang diperbuat, karena belum tentu apa yang kita voniskan tidak sesuai dengan yang sesungguhnya….

Wallau A’lam bishshowab…

Berkah Kelapa Sawit

Kelapa sawit adalah salah satu tumbuhan tropis yang tumbuh subur dan produktif di beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatra dan Kalimantan. Sama seperti kelapa, hampir semua bagian dari sawit juga bermanfaat. Daging buahnya sebagai bahan baku minyak goreng, tempurungnya bisa digunakan sebagai pengganti batu koral, tangkos (janjang) dan limbah buah bisa digunakan sebagai pupuk (bagus untuk merangsang tumbuhnya akar dan menggemburkan tanah), pelepahnya bisa dijadikan pagar untuk sawit yang baru ditanam. Cukup multi fungsi kan…???

Selain multi fungsi diatas, sawit juga merupakan komoditas ekspor yang juga merupakan tulang punggung perekonomian rakyat. Di daerah saya, sawit merupakan sumber penghasilan andalan bagi masyarakat. Meskipun harganya tidak setinggi karet/getah yang mencapai angka diatas 10.000/kg (Sawit 1440/kg di Pabrik), tapi hasil tiap panen jauh diatas karet(2,5 hektar rata2 menghasilkan 1,5 – 3 tons lebih dalam 7 hari). Berarti tiap panen(7 hari) petani bisa memperoleh penghasilan kotor: 1500 x 1250 (harga petani) = Rp. 1.875.000,-. Tiap bulan bisa memperoleh penghasilan minimal: 1.875.000 x 4 = Rp. 7.500.000,-. Bukan jumlah yang kecil bukan…??? Jadi pantas jika sawit menjadi primadona sebagai penompang perekonomian rakyat di sebagian besar daerah Sumatra dan Kalimantan.

Selain sumber rizqi yang melimpah bagi pemilik kebun, sawit juga memberikan penghasilan tambahan bagi para pencari berondolan(buah sawit yang lepas dari tangkos/janjangannya). Para pengumpul berondolan ini memungut berondolan yang tidak diambil oleh pemiliknya. Dalam sehari, para pemburu berondolan ini rata-rata bisa memperoleh sebanyak minimal 75 kg. Jadi dalam sehari bisa memperoleh penghasilan tambahan dari berondolan sebesar: 75 x 1100 (harga berondolan) = Rp. 82.500,- lumayan juga kan…??? Bahkan ada juga beberapa orang yang menjadikan profesi pengumpul berondolan sebagai penghasilan utama, dan bisa memperoleh sampai 100 kilograms lebih. Jika dikalikan 1100 maka penghasilannya mencapai 110.000 dalam satu hari. Maka dalam satu bulan bisa mencapai Rp. 3.300.000,- angka yang cukup fantastis bukan…???

Itulah berkah kelapa sawit bagi warga sekitarnya, baik bagi pemilik lahan, pemanen, juru timbang, juru muat, bahkan sampai pengumpul berondolan. Semuanya merasakan berkah kelapa sawit. Namun sayangnya, hal itu tidak diimbangi dengan sarana dan fasilitas dari pemerintah berupa LISTRIK, AIR dan INTERNET yang layak. Masih banyak daerah di Sumatra dan Kalimantan yang gelap gulita saat malam menjelang. Semoga saja para abdi rakyat terbuka matanya.

Musim Penghujan, Hasil Karet Turun

Karet/getah (latex) merupakan salah satu komoditas ekspor provinsi Jambi. Keberadaannya pun merupakan sumber penghasilan pokok sebagian masyarakat Jambi, termasuk desa saya (Bungo Tanjung). Sebagai komoditas ekspor, karet memiliki harga jual yang cukup tinggi. Saat ini, harga di tingkat petani mencapai Rp. 12.000,- /kg untuk karet bersih kering, Rp. 11.000,-/kg untuk bersih basah, Rp. 10.000,-/kg untuk rintik, Rp. 9.000,-/kg untuk tatal.

Tak beda jauh dengan komoditas ekspor lain, harga karet juga cenderung tidak stabil, sering naik turun seiring nilai tukar US Dollar. Pertengahan bulan November kemarin, harga karet mengalami penurunan drastis mencapai Rp. 9.000,-/kg untuk karet bersih kering. Padahal mulai bulan Oktober-saat ini merupakan musim penghujan, sehingga hasil karet turun pula. Maka penghasilan petani pun otomatis turun dua kali lipat.

Penurunan jumlah hasil karet di musim penghujan ini dapat saya ketahui dari jumlah tonase karet mulai pertengahan oktober sampai hari ini. Terhitung mulai tanggal 16 Oktober 2011 sampai 10 Desember 2011 (56 hari), total karet yang terkumpul di gudang sebanyak 43.915 Kilograms. Padahal sebelumnya dalam 30 hari bisa mencapai 60 Tons lebih. Hal ini tentu saja juga mengurangi omzet yang diperoleh. Untung saja dalam seminggu ini harga karet cukup stabil di angka Rp. 11.000,- jadi tidak begitu down. Rizqi memang kadang banyak dan kadang sedikit. Alhamdulillah masih bisa buat bayar karetnya para petani. Mudah mudahan saja harga karet segera naik lagi… Amin….